Lagi, Siswa Indonesia Bikin Bangga!

Kamis, 30 Juni 2011

JAKARTA, KOMPAS.com — Pelajar-pelajar Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa dalam kancah persaingan keilmuan di dunia internasional. Kali ini, tim pelajar Indonesia berhasil meraih satu medali perak, satu medali perunggu, dan satu penghargaan honourable mention pada ajang International Sustainable Energy Engineering and Environment Project Olympiad 2010 atau I-SWEEEP 2010 yang berlangsung 14-19 April 2010 di Houston, Texas, AS.

I-SWEEEP merupakan olimpiade proyek penelitian tingkat internasional yang melombakan tiga bidang, antara lain energi, rekayasa teknologi, dan lingkungan, untuk tingkat SMP dan SMA. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Cosmoz Foundation itu diikuti 70 negara dan 40 negara bagian di AS.

Indonesia sendiri telah tiga kali mengikuti ajang internasional ini. Pada keikutsertaan sebelumnya, Indonesia meraih dua medali emas, dua medali perak, tiga medali perunggu, dan empat honourable mention.

Ketiga tim yang dikirim merupakan para juara dari ajang Indonesian Science Project Olympiad 2010 (ISPO 2010). Presiden ISPO Bambang Sudibyo di Jakarta, Kamis (22/4/2010), menjelaskan, ISPO merupakan pintu bagi siswa untuk menjadi berkelas dunia. Bambang berharap, ISPO dalam proses mematenkan hasil penelitian siswa Indonesia tersebut bisa dikomersialkan.

Berhentilah Jadi Gelas

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

"Kenapa kau selalu murung, nak?
Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.

"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru.

"Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."

Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.

"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka.

"Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."

Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan murid, begitu pikirnya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya,

"Bagaimana rasanya?"

"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.

Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"

"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum.

"Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang
dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."

Si murid terdiam, mendengarkan.

"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau."
http://beraniegagal.com/

Peringkat Pendidikan Indonesia Turun

Rabu, 29 Juni 2011

Kamis, 03 Maret 2011
Jakarta, Kompas – Indeks pembangunan pendidikan untuk semua atau education for all di Indonesia menurun. Jika tahun lalu Indonesia berada di peringkat ke-65, tahun ini merosot di peringkat ke-69.
Berdasarkan data dalam Education For All (EFA) Global Monitoring Report 2011: Di Balik Krisis: Konflik Militer dan Pendidikan yang dikeluarkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) yang diluncurkan di New York, Amerika Serikat, Senin (1/3) waktu setempat, indeks pembangunan pendidikan (education development index/EDI) menurut data tahun 2008 adalah 0,934. Nilai ini menempatkan Indonesia di posisi ke-69 dari 127 negara di dunia.
EDI dikatakan tinggi jika mencapai 0,95-1. Kategori medium di atas 0,80, sedangkan kategori rendah di bawah 0,80.
Global Monitoring Report dikeluarkan setiap tahun yang berisi hasil pemantauan pendidikan dunia. Indeks pendidikan tersebut dibuat dengan mengacu pada enam tujuan pendidikan EFA yang disusun dalam pertemuan pendidikan global di Dakar, Senegal, tahun 2000.
Indonesia masih tertinggal dari Brunei yang berada di peringkat ke-34 yang masuk kelompok pencapaian tinggi bersama Jepang yang mencapai posisi nomor satu di dunia. Sementara Malaysia berada di peringkat ke-65. Posisi Indonesia jauh lebih baik dari Filipina (85), Kamboja (102), India (107), dan Laos (109).
Total nilai EDI diperoleh dari rangkuman perolehan empat kategori penilaian, yaitu angka partisipasi pendidikan dasar, angka melek huruf pada usia 15 tahun ke atas, angka partisipasi menurut kesetaraan jender, dan angka bertahan siswa hingga kelas V sekolah dasar.
Penurunan EDI Indonesia yang cukup tinggi tahun ini terjadi terutama pada kategori penilaian angka bertahan siswa hingga kelas V SD. Kategori ini untuk menunjukkan kualitas pendidikan di jenjang pendidikan dasar yang siklusnya dipatok sedikitnya lima tahun.
Arief Rachman, Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, di Jakarta, Rabu (2/3), mengatakan, penurunan peringkat Indonesia ini memang bisa diperdebatkan, misalnya dari masalah data yang digunakan. Selain itu, dalam membandingkan pencapaian dengan negara-negara lain, masalah seperti demografi Indonesia yang tersebar di 17.000 pulau, misalnya, tidak diperhitungkan.
“Terlepas dari pemeringkatan ini bisa diperdebatkan atau tidak, penurunan satu poin sudah memprihatinkan. Kita harus bekerja keras untuk meningkatkan. Indonesia harus berani ambisius bisa mencapai target EFA pada tahun 2015,” kata Arief. (ELN)

http://www.kopertis12.or.id/2011/03/03/peringkat-pendidikan-indonesia-turun.html

Pentingnya Peran Guru Dalam Membangun Karakter Bangsa

Padang, Indowarta
Peranan guru dalam rangka membangun karakter bangsa sangatlah penting, terutama dalam menyikapi kondisi kekinian Indonesia. Dimana banyak terjadi teror, aksi kekerasan dan maraknya aliran sesat.
Menyikapi kondisi tersebut, Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mengadakan seminar bertema ’Peranan Guru Dalam Membangun Karakter Bangsa, Antisipasi Terorisme, Kekerasan dan Aliran Sesat’ bekerjasama dengan Forum Masyarakat Cinta Damai Sumbar, Minggu (29/5/2011) bertempat di Gedung Dakwah PWM Sumbar di Jalan Sawahan, Kota Padang.
Seminar yang dimulai pada pukul 09.00 Wib menghadirkan 3 orang narasumber dengan temanya masing-masing yakni, Yaswirman Dosen Universitas Andalas dengan tema ’Membangun Karakter Anak Bangsa Untuk Mengantisipasi Kekerasan dan Teror di Indonesia, Drs.H.Sobhan Lubis, MA Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Imam Bonjol dan Drs.Dasrizal Dahlan, SH, M.Pd Ketua Majelis Tabligh PWM Sumbar. Serta dihadiri sekitar 80-an guru Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) sederajat di Kota Padang.
Setelah melalui pemaparan 3 nara sumber serta sesi tanya jawab, disepakati berberapa point penting atau kesimpulan dalam seminar tersebut yakni, seluruh peserta menyepakati bahwa Islam Rahmatan Lil Alamin. 
Kemudian meskipun banyaknya kejadian atau masalah yang terjadi dalam kehidupan bernegara saat ini, tetap tidak boleh putus asa dan optimis berbuat baik. Pembangunan karakter bangsa tetap musti dilakukan, walaupun banyak terdapat beda pendapat. Selain itu terdapat beberapa cara atau teori untuk membangun karakter.
Selanjutnya, aliran sesat adalah berbahaya dan menjadi tanggungjawab bersama untuk mengatasinya. Peran guru juga sangat diharapkan, sebagai contoh tauladan penting. Lalu perlu dilakukan cara baru dalam menyampaikan pembelajaran, melalui pendekatan dan kasih sayang.
Drs.H.Nurman Agus Wakil Ketua PWM Sumbar di sela-sela acara seminar menjelaskan, bahwa tujuan diadakannya acara seminar tersebut adalah menyikapi fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat pada saat ini.
Fenomena-fenomena tersebut adalah banyaknya aksi kekerasan dan terorisme. Meskipun dalam ajaran agama manapun tidak ada yang mengajarkan radikalisme dan terorisme, ungkapnya.
Selain itu, seminar juga sejalan dengan maksud dan tujuan serta latar belakan berdirinya Muhammadiyah. Dimana Muhammadiyah dibentuk dan didirikan berdasarkan alasan banyaknya permasalahan umat saat itu.
Tema seminar juga dinilai sangat tepat oleh Wakil PWM Sumbar, dengan mengundang para guru, terkait peranannya dalam mengajar terhadap para murid. Terutama banyaknya tawuran antara pelajar sekolah di Kota Padang, akibat kurangnya pendidikan agama atau pemahamannya di sekolah.
Meskipun dalam membentuk karakter anak bangsa yang nantinya akan memimpin bangsa ini, bukanlah sepenuhnya ditangan guru. Melainkan diperlukannya kepedulian dari seluruh pihak, terutama orang tua, lingkungan, sarana pendidikan dan pemerintah.
Sehingga diharapkan melalui sinergitas dan kepedulian bersama, permasalahan yang saat ini terjadi di Indonesia, dapat dicegah atau dihindari kemungkinan terjadinya di Sumbar, pungkasnya. (YS)

oleh Irwansyah
http://www.indowarta.com

bLog baRu

Selasa, 21 Juni 2011

alhamdulillah punya blog baru nie...
karena baru belajar membuat blog harap maklum, blog ini belum bisa sempurna seperti blog yang lain.
semoga dengan blog sederhana ini bisa bermanfaat bagi temen2 semua dalam menambah wawasan.
selamat membaca...