Belajar Dalam Arti Sesungguhnya

Rabu, 13 Juli 2011

Oleh Syamsul Arifin
Kita semua pada hakikatnya adalah seorang pelajar, disadari maupun tidak. Mulai dari kecil kita telah menjadi seorang pembelajar sejati. Belajar mengenal bahasa ibu, dan mempraktekkannya; belajar mengenai gerakan, dan melakukannya; belajar mengenal alam, dan memakmurkannya; dan belajar-belajar yang lain.
Ketika beranjak dewasa, kitapun terus belajar. Belajar mengenali perubahan fungsi dan tanggung jawab, dan belajar tuk menjadi seorang yang berkepribadian matang. Mengenali dan mempelajari perubahan fungsi dan tanggung jawab ketika beralih peran dari seorang pelajar ke seorang pekerja, dari seorang bujangan/gadis kepada seorang suami/isteri, dan belajar dari hanya seorang suami menjadi seorang suami plus ayah bagi anak-anak.

Dan terkadang proses pembelajaran itu sering terjadi tanpa kita sadari, sering kita tidak mengerti bahwa sesungguhnya kita telah dan harus melewati proses pembelajaran.
Manusia terus berproses, dunia terus berputar, dan lingkungan kita pun terus berubah, satu-satunya cara tuk bisa terus bertahan dan menjadi sukses adalah dengan belajar. Belajar bukan hanya di bangku-bangku kelas tapi juga di lingkungan kita, dalam kehidupan keseharian, dan dengan orang-orang yang mungkin tidak memiliki gelar guru ataupun dosen, dan bisa saja belajar dari benda mati dan dari pengamatan terhadap keadaan sekitar.
Dunia ini adalah sekolah besar, universitas kehidupan, sekolah kehidupan. Dan kita ini pada dasarnya adalah pelajar, pelajar sekolah kehidupan.
Ada beberapa hal yang mungkin kita perlu dijadikan catatan bersama mengenai kompetensi dasar seorang pelajar sekolah kehidupan seperti kita.
Sadarilah bahwa kita adalah pelajar. Jangan pernah puas dengan apa yang kita miliki sekarang, jangan pernah merasa cukup dengan apa yang kita miliki sekarang. Seorang pelajar seharusnya terus merasa haus dengan ilmu dan terus menerus belajar.
Seorang pelajar yang baikpun seharusnya tidak memiliki sifat sombong karena kesombongan akan membuat kita merasa lebih dibandingkan orang lain, dan menyebabkan kita berpaling dari pelajaran.
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia”
Sadarilah bahwa dunia dan diri kita terus berubah. Sebuah frase yang sering kali diungkapkan orang, “dunia ini selalu dan terus berubah, satu-satunya hal yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri”. Perubahan di dunia ini berjalan konstan, ajeg, stabil atau terus menerus. Karena itu, barang siapa yang tidak mau dan tidak mampu tuk mengikuti perubahan, maka bersiap-siaplah tuk terlindas perubahan tersebut.
Penemuan-penemuan baru, metode-metode baru, strategi-strategi baru, alat-alat baru, teori-teori baru, sumber daya manusia baru, dll, intinya, semua hal di dunia ini terus berkembang, bukan hanya sekedar berubah. Apabila tidak disikapi dengan baik, orang-orang yang bertahan dengan dirinya dan masa lampaunya akan tertinggal di belakang.
Begitu pula peran kita dalam menyikapi perubahan sosial budaya dan lingkungan sekitar kita. Sebuah ilustrasi sederhana, apabila seorang anak yang sedang beranjak dewasa dan besar terus diperlakukan seperti anak kecil, maka itu akan mencelakakan dirinya orangtuanya dan keluarganya, karena akan timbul pemberontakan, perlawanan dan lain-lainnya, karena memang perlakuannya harus berbeda dan unik. Karena itu mungkin perlu pembelajaran mengenai pembelajaran mengenai pengajaran terhadap anak remaja
Dan begitu pula Imam Syafi’i mengajarkan kita mengenai unsur perubahan dalam kehidupan, di mana beliau membuat Qaul Qadim ketika di Baqdad dan melahirkan Qaul Jadid ketika berpindah ke Mesir.
So, perubahan itu adalah keniscayaan, dan kita harus terus mawas dengan perubahan itu tuk bisa mempelajarinya dan mencari ilmu tuk menghadapi perubahan-perubahan tersebut.
Sadarilah bahwa hasil dari pembelajaran adalah adanya perubahan. Inti dari belajar adalah adanya perubahan. Kita baru benar-benar dikatakan telah belajar jika telah menghasilkan perubahan dalam diri kita. Seseorang yang dari hari kehari berada dalam kondisi yang sama saja layaknya orang yang tidak pernah belajar. Kita seharusnya belajar, dengan perubahan status yang kita miliki, dari seorang single menjadi berpasangan, seharusnya melahirkan perubahan bersikap dalam diri kita. Setelah mengikuti pelatihan, seharusnya ada kinerja yang berubah, dan ada keterampilan yang bertambah. Setelah tertempa ujian kehidupan, seharusnya ada kedekatan religi yang meningkat. Dan seterusnya. Pembelajar sejati menjadikan perubahan ini bersifat positif, permanen dan berkelanjutan.
Kita bisa mengevaluasi apakah kita benar-benar telah belajar atau belum dari mengevaluasi seberapa besar perubahan yang ada dalam diri kita.
Sadari bahwa proses pembelajaran terbaik adalah sebelum praktik. Terkadang karena minimnya persiapan kita, proses pembelajaran terjadi ketika kita sedang berproses. Seperti baru belajar mengenai menyetir mobil padahal sudah punya mobil, belajar mengenai hak-kewajiban suami-isteri padahal sudah menikah, belajar mengenai kesehatan anak setelah sang anak lahir, dan lain sebagainya.
Padahal tempat terbaik belajar adalah sebelum kita terjun langsung dalam suatu aktivitas. Maka dari itu, Imam Bukhari membuat sebuah bab khusus dalam kumpulan haditsnya dengan judul “Keutamaan Ilmu Sebelum Iman dan Amal”.
Tapi masih lumayan “belajar seiring dengan praktik”lah daripada ‘tidak belajar sama sekali”
Terakhir, sadari bahwa dunia ini hanya tempat belajar, ujian, dan amalan; dan sesungguhnya akhirat adalah tempat kembali kita. Entah ini nyambung atau tidak, tapi saya ingin memasukan catatan ini dalam point terakhir saya. Bahwa sesungguhnya orientasi kehidupan kita sudah seharusnya ditujukan pada tempat kembali kita kelak.
Segala pembelajaran, segala pencapaian, dan segala hal yang kita dapatkan seharusnya memuat nilai yang berorientasi kepada hari akhirat. Karena kita takkan selamanya berada di dunia ini, dan sesungguhnya segala yang kan kita dapatkan di sini kan kita tinggalkan.
“Dan sesungguhnya orang yang paling cerdas adalah orang yang mempersiapakan untuk hari akhirnya”
---
Jakarta, 6 Januari 2008 *Syamsul Arifin, seorang pelajar sekolah kehidupan yang sedang mempelajari cara tuk belajar…
Http://genkeis.multiply.com

METODE MENINGKATKAN DAYA PENYERAPAN DIDALAM OTAK

Senin, 11 Juli 2011

Hi... teman2 saya baru menemukan metode untuk meningkatkan daya penyerapan, khususnya untuk kamu yang lemot ( maksudnya kamu kadang-kadang sukar sekali menangkap suatu pembicaraan atau materi yang kamu hadapi ). Saya kadang berfikir kenapa pada saat saya menerima meteri perkuliahan, bila dosen/guru sedang berbicara tentang suatu materi yang diberikan, saya tidak pernah mengerti dan selalu tidak nyambung apa yang dibicarakan oleh dosen saya dengan pemikiran saya.

Saya selalu meneliti, bagaimana caranya agar otak saya mampu menyerap pembicaraan-pembicaraan yang saya dengarkan dengan cepat dan tepat?. Mungkin bagi yang IQ-nya tinggi, hal tersebut tidak masalah baginya, karena otaknya mampu menyerap berkalilipat dibandingkan orang yang memiliki IQ yang rendah seperti saya ini (he7). Untuk itu perlu ada perlakuan khusus bagi orang yang memiliki daya serap yang rendah, apakah itu??. Mungkin ini agak konyol tapi mudah-mudah bermanfaat. Sebagai berikut :

Mengenal Prinsip Akuntansi Syariah

*diambil dari milling list MES http://finance.groups.yahoo.com/group/ekonomi-syariah/

Akuntansi dikenal sebagai sistem pembukuan “double entry”. Menurut sejarah yang diketahui awam dan terdapat dalam berbagai buku “Teori Akuntansi”, disebutkan muncul di Italia pada abad ke-13 yang lahir dari tangan seorang Pendeta Italia bernama Luca Pacioli. Beliau menulis buku “Summa de Arithmatica Geometria et Propotionalita” dengan memuat satu bab mengenai “Double Entry Accounting System”. Dengan demikian mendengar kata ”Akuntansi Syariah” atau “Akuntansi Islam”, mungkin awam akan mengernyitkan dahi seraya berpikir bahwa hal itu sangat mengada-ada.

Namun apabila kita pelajari “Sejarah Islam” ditemukan bahwa setelah munculnya Islam di Semananjung Arab di bawah pimpinan Rasulullah SAW dan terbentuknya Daulah Islamiah di Madinah yang kemudian di lanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin terdapat undang-undang akuntansi yang diterapkan untuk perorangan, perserikatan (syarikah) atau perusahaan, akuntansi wakaf, hak-hak pelarangan penggunaan harta (hijr), dan anggaran negara. Rasulullah SAW sendiri pada masa hidupnya juga telah mendidik secara khusus beberapa sahabat untuk menangani profesi akuntan dengan sebutan “hafazhatul amwal” (pengawas keuangan). Bahkan Al Quran sebagai kitab suci umat Islam menganggap masalah ini sebagai suatu masalah serius dengan diturunkannya ayat terpanjang , yakni surah Al-Baqarah ayat 282 yang menjelaskan fungsi-fungsi pencatatan transaksi, dasar-dasarnya, dan manfaat-manfaatnya, seperti yang diterangkan oleh kaidah-kaidah hukum yang harus dipedomani dalam hal tersebut. Sebagaimana pada awal ayat tersebut menyatakan “Hai, orang-orang yang beriman apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya………”

Dengan demikian, dapat kita saksikan dari sejarah, bahwa ternyata Islam lebih dahulu mengenal system akuntansi, karena Al Quran telah diturunkan pada tahun 610 M, yakni 800 tahun lebih dahulu dari Luca Pacioli yang menerbitkan bukunya pada tahun 1494.

AKUNTANSI ITU MUDAH !…..

Di zaman sekarang, perkembangan computer dan networking sedemikian canggih dan relative murah, masih banyak yang mengatakan akuntansi itu sulit dan membuat jenuh.

Alasan mereka karena berbagai aturan tata buku yang mengharuskan mencatat transaksi berulang kali mulai dari mencatat jurnal, mengklasifikasi transaksi, posting ke buku besar , membuat neraca lajur, menyusun laporan rugi laba, neraca sampai proses tutup buku dan sebagainya, sehingga proses pembuatan laporan keuangan membutuhkan waktu dan relative lama.
System akuntansi berkembang sesuai dengan berkembangnya kebutuhan informasi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang digunakan. Proses yang lama seperti ilustrasi tersebut adalah teori pembukuan metode tangan dan metode mesin tik warisan zaman belanda. Sekarang digunakan Accounting system dengan bantuan system komputer. Sudah jarang ditemukan mesin tik namun faktanya masih banyak pengolahan akuntansi menggunakan komputer yang hanya sekedar menggantikan mesin tik sehingga manfaat yang diperoleh dari sumber daya computer sangat minim. Kenyataan ini semata-mata permasalahan sumberdaya manusia.

Everyone is Number One

Selasa, 05 Juli 2011

Pada talkshow pagi hari ini di Radio Sonora saya membawa seorang "bintang tamu" yang sangat inspiratif perjalanan hidupnya. Beliau adalah Pak Budiono Gondosiswanto, pengusaha yang sukses mengembangkan pembersih rumah tangga secara curah dengan merek Motto Curah. Produknya tak hanya dipercaya oleh jutaan rumah tangga di Indonesia, tetapi juga sudah diekspor ke mancanegara dan meraih sejumlah penghargaan seperti Piagam Penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia untuk kategori "Penjualan Produk Pembersih Rumah Tangga Ramah Lingkungan Secara Curah Terbanyak".


Yang menarik adalah perjalanannya untuk meraih sukses. Beliau tipe pengusaha yang fokus pada keinginannya, pekerja keras, konsisten, tak mudah menyerah, dan tak pernah henti belajar. Seperti yang dituturkannya pagi tadi, Pak Budiono mengatakan, jika sekolah untuk meraih gelar sarjana saja perlu waktu 16 tahun, maka untuk sukses di bisnis pun memerlukan waktu yang tak sedikit. "Jika ada seseorang yang mencoba satu usaha tapi baru tiga tahun gagal lalu mencoba usaha jenis lainnya, maka ia akan terus seperti itu. Gagal ganti, gagal ganti," katanya. Sehingga waktunya habis hanya untuk berganti bisnis.

Menurut Pak Budiono, fokus itu penting. Dialah sebagai buktinya. Beliau memulai usahanya 16 tahun lalu dengan modal tak seberapa. Ketika itu omset hariannya hanya Rp 15 ribu. Tetapi meski dengan omset sekecil itu, ia tak berkecil hati. Ia tetap tekun dan terus meyakinkan istrinya bahwa omset Rp 15 ribu itu hanya dari satu orang pembeli. Bagaimana jika seluruh dunia membelinya? Sekarang kita tahu, berkat ketekunannya dan kemauannya yang keras, gagal bangkit, gagal lagi bangkit lagi, gagal lagi bangkit lagi, akhirnya sukses pun bisa diraihnya.